- Video Call sama Mama - Papa & teman-teman. Ya berusaha berinteraksi dengan siapapun secara virtual itu perlu, apalagi kalau yang tinggal sendirian macam diriku ini
- Nonton Film & Serial. Sudah nggak terhitung berapa serial diselesaikan dan berapa film yang sudah ditonton, Kdrama, Western sampai film berbahasa asing lain (Jerman, Spanyol dst), nanti kubikin sinopsis dan reviewnya mungkin ya, karena film - film yang kutonton mungkin ada beberapa yang ga mainstream. Psst... aku rela langganan nomer operator sebelah supaya bisa nonton Netflix hahahha (that far.....)
- Masak, yahhh, bukan yang heboh juga sih dimakan sendiri, paling tumis-tumis aja, paling mewah masih cuman sukiyaki wkwkwkwk
- Olah raga online. Ya, sebelum pandemi ini sudah doyan olah raga, walaupun ya gitu anggi gampang banget bosen dan susah istiqomahnya klo sudah di atas 2-3 bulan, nah pas WFH minggu ke 1 - 4 masih mayan rajin 1- 3 kali seminggu, sekarang hmm, kenapa kalau puasa itu jam semakin cepat berlalu ya
- Ikut kelas online/webinar. Yaaa dari sekian periode masa lihat - lihat dan mempertimbangkan maka akhirnya ikut webinar berbayar, walau baru sekali (wakwaw) tapi insya Allah berfaedah. Selain webinar berbayar kebanyakan lihat kajian sama tutorial gratis di youtube. Mau nambah webinar berbayar lain, masih mempertimbangkan sih, milih yang mana (sampe sekarang masih tahap mempertimbangkan
MembeliMengadopsi tanaman. Huwaaaaa... setelah mempertimbangkan banyak hal (yak Anggi adalah penimbang keputusan yang ulung, karena belum tentu diimplementasikan) akhirnya membeli beberapa tanaman hias, untuk bisa menghibur diri. Keputusan yang berat sih karena memang tahu sifat diri yang suka gampang bosen dan mager ini mempertanyakan komitmen pelaksanaan (halah) maka dipilihlah tanaman -tanaman dengan kesuksesan hidup tinggi (kalau kata temenku sih gitu) dan yang pasti murah (kalau ditambah ongkir nggak juga sih ya). Sekarang sudah terkumpuk sekitar 7 tanaman yang sudahdibelidiadopsi, dan sudah mulai dirawat sesuai dengan teori yang dibaca dan dipelajari (yak, beneran nyatet sama how to nya) semoga aja bisa bertahan ya tanamannya, ya keistiqomah-an ini. Kayaknya nanti mau bikin blog sendiri tentang ini5 Tanaman yang dibeli - Memotong rambut sendiri. YAAAA.............. akibat terlena dan terbiasa procrastinating alias menunda-nunda potong rambut dan keburu pandemi, yaaa akhirnya motong rambut sendiri. Gimana caranya? well buka youtube dan cari "bagaimana cara memotong rambut sendiri" atau "How to cut your own hair" hahaha, alhamdulillah hasilnya tidak mengecewakan
- Bikin video tiktok. Hmmmm sebenernya bukan video sendiri sih, tapi tiktokannya satu bagian besar di kantor. Ternyata susah, takenya harus 4 - 5 kali heuheu.... i give respect to those who make videos like these to be viral
- Ngisi template - template IG Story. Yaaaa... ini ngetren di minggu - minggu pertama stay at home, ga tau ada berapa ya yang sudah dibuat, sampai - sampai bosen sendiri, entah gunanya apa, faedahnya apa selain viral dan lagi tren
- Menggambar. Iyaa, kemarin weekend akhirnya bongkar - bongkar peralatan hobi, ternyata masih ada cat air sama pensil cat air, lumayan lah, killing time, walaupun mungkin masih kaku lagi tangannya, karena mungkin gambarnya terakhir tahun lalu, hahahahaha.
May 4, 2020
Stay at Home Week 8 : How Are You Doing?
Apr 24, 2017
Why Am I An Assh*le? But So Is Everyone Else...
But it's 2017.. yes 2017, it's like everything's grown and changed like within a blink of eye.. many things has shifted, like morals, habits, economy -yeah right- and trends. Talking about behavioural trends, sometimes I ask myself, "Where has the gentlemen's gesture gone?"... Yep, I call it, "gentlemen gesture", what is that? well simple things, like giving hand to a woman, girl, or female while she's on a stair, giving her a ride when it's midnight already even though the road is contradictory.. may be the examples are too much, but like giving a girl compliment just to make her smile, is just too rare lately. Or as simple as open a seat or a chair to woman without being asked, now I would call it a miracle.
It doesn't have to make a woman helpless to accept that kind of gesture, or it's too western style or we demand it as equality.. NO.. NO.. NO... for me this kind of gesture is flattering, and it's so rare to find lately, that a boy or a man with intentionally has a bad tendency towards women can use this as one of their methods. Yeah, this kind gesture sometimes misinterpret into a bad intention to get short pleasure.
Who do I have to blame? the equality movements? the independence fight for women so that we -as women- need no help from men? well what is the meaning equal? well I have said there once during my bachelor degree era, I said that equal for men and women are not the same, well we cannot kill the nature side of men or women. I took a degree that majority is men, electrical engineering but it didn't make me lost my feminine side, it did improved and boosted my feminine side because it was easy to be acknowledged as a rare creature in the field. Raised and grew in this kind of situation made me a very loud and outspoken person, though I still uphold the feminine side of me. Showing your feminine side is not, once again NOT stupid, it shows that you have taste and sensitivity more than other, not as a weakness but as a strength that can only be felt as a woman.
Well I demand these gentlemen gestures as a woman, it would not make me as an as*h*le right? because it becomes my requirement for a man.. well don't you want to be treated as a lady despite recent styles of life.. likewise an as*ho*e??
-Jakarta, April 24th, 2017-
Sep 8, 2013
How I miss the old me....
Have you ever wanted to go back in time? or just to feel the same energy like you had before? The enthusiaism, the craving for new things.... are some of the part the I miss the most....
Ada beberapa titik dalam kehidupan dimana aku bisa overcome things that I never imagined to face to... I was once never feeling lonely when I was alone. I was once bravely facing everything while I was so exhausted and even clueless. I was once a person who had a strong belief and dream. I was so determined in anything comes to my life in any way I could. But now, why do I feel everything is different?
A friend told me that I'm not in the same teritorry as I was before, where currently everything's more heterogent and challenging than before. I need to be more tactical in a very simple thing in my life. But is that what I want? Is that what I want to achieve? or I just don't want to learn? or I just don't want to change? or I just want to be in the safe side?
Many things wandered in my head, my fears, my regrets, my thoughts, my questions, my instability. Well, perhaps some one can be changed because of the environment or the forces are bigger than their life so they should change and survive. But become a survivor is not enough here, so what should I do? I just miss the old me, with the courage and the hope :(
..looking back over my shoulder.....
Jul 15, 2013
I can, can't I?
Tapi entah kenapa, kalau diaplikasikan ke dalam diri sendiri, selalu ada pemikiran yang contradictory, atau bisa dibilang berlawanan dari apapun yang pernah aku hadapi ataupun yang ditugaskan dari orang lain, dalam hal ini adalah pekerjaan. Sering timbul pemikiran di kepala 'Kok semakin memberatkan sih?' 'Kok ga mau membantu dan malah menyusahkan' 'Ini kan seharusnya bukan saya yang mengerjakan' 'Mana bisa kalo saya yang ngerjain' 'Kok semua yang susah ke aku sih?'
Sifat overly risk averse ini, somehow membuat kepalaku cloudy, makes me so emotionally driven dan total bad tempered. Seorang teman pernah mengingatkan utk menghitung dari 1-10 sebelum mencoba merespon apapun baik pikiran maupun ucapan apalagi tindakan. It happened to me today, well I know I should've tried or at least scratched a simple concept and did a part of what requested. However, I managed to calm myself down for the first and it takes some time *sigh* Apalagi di tempat ini semuanya harus bergerak cepat dan dituntut cepat haphaphap ga ada waktu wandering around. Nah klo kayak gini terus aku gimana? berkembang ga yah? bisa ga yah? bisa kok bisa, pelan-pelan :)
Pernah menelpon bapak menceritakan IPK S2 yang tidak sesuai dengan keinginankua, beliau dengan pelannya bilang "Alhamdulillah masih di atas 3.5 ga harus perfect kok nak, disyukuri, dijalani dan dinikmati aja' nasihat ini seperti angin segar, tapi bertolak belakang dengan lingkungan yang menuntut nilai yg selalu tinggi almost reaching for perfection, it's hard :( however actually it's like a love-and-hate situation. I love the beat and every knowledge that I get but the other way I'm suffered from perfection pressure :(
Soundtrack kegundahan ini adalah lagu electro-pop-dance, Clarity by Zedd feat foxes, cool video and deep meaning lyrics :)
High dive into frozen waves where the past comes back to life
Fight fear for the selfish pain, it was worth it every time
Hold still right before we crash 'cause we both know how this ends
A clock ticks 'til it breaks your glass and I drown in you again
'Cause you are the piece of me I wish I didn't need
Chasing relentlessly, still fight and I don't know why
If our love is tragedy, why are you my remedy?
If our love's insanity, why are you my clarity?
(Hey-ay, hey-ay-ay. Hey-ay, hey-ay-ay. Hey-ay, hey-ay-ay. Hey-ay, hey)
If our love is tragedy, why are you my remedy?
If our love's insanity, why are you my clarity?
Walk on through a red parade and refuse to make amends
It cuts deep through our ground and makes us forget all common sense
Don't speak as I try to leave 'cause we both know what we'll choose
If you pull then I'll push too deep and I'll fall right back to you
'Cause you are the piece of me I wish I didn't need
Chasing relentlessly, still fight and I don't know why
If our love is tragedy, why are you my remedy?
If our love's insanity, why are you my clarity?
Why are you my clarity?Why are you my remedy?Why are you my clarity?Why are you my remedy?
If our love is tragedy, why are you my remedy?If our love's insanity, why are you my clarity?
Jul 9, 2013
Hit again..Moment to Know My Self
Jun 23, 2013
Saya Pintar, Saya Bisa, Saya Sanggup...
Saya ga percaya dan ga akan pernah percaya bahwa ada orang bodoh di dunia ini. Walaupun mungkin bisa dikatakan pintar dalam melakukan kesalahan berulang kali. Tapi apakah itu salah sehingga apa yg dipikirkan, apa yang dilakukan itu ternyata tidak sesuai dengan tempatnya? dan sekonyong-konyong dicap bodoh atau ga pintar. Well, it's just my thought, that every one has his/her own intelegencies, however perhaps they just don't use it in the right time, the right place, or with the right people.
Pemikiran ini timbul karena saat ini, orang-orang yang mungkin (in my opinion) by default gifted atau berbakat atau juga dibilang memiliki rezeki sejak lahir, ada di sekitar saya. Apa itu? misal cum laude di salah satu perguruan tinggi teknologi atau universitas yang diklaim paling favorit dan berkumpulnya 'orang-orang' pintar, lahir dari keluarga berkecukupan dan kerja di tempat impian semua orang. Ketika di dunia kerja mereka pas dan tepat sekali atau berhasil menemukan apa yang mereka gemari dan kemampuan mereka itu dikenali para atasannya. Dan dalam situasi dunia kerja, pada kenyataanya ga semuanya berhasil mendapatkan semua itu, or just simple orang-orang lain yang not just in time or stumbled on the wrong people or simply just in the wrong environment. Irony? may be... but the worst is when everything is being quantified alias dihitung secara kuantitatif berdasarkan angka dan kemampuan kognitif, well it all comes up with position for over performer or excellent performer.
Ada contoh lain, yang sering diceritakan oleh teman-teman saya, tentang jurusan kuliah atau penentuan jalan hidup seorang anak yang lulus SMU. Mungkin sekarang udah berubah jamannya, tapi mungkin kejadian seperti ini masih ada. Sering saya dengar bahwa orang tua selalu ingin anaknya jadi dokter, insinyur, atau jurusan favorit lainnya. Bila pun si anak akhirnya menuruti kemauan orang tuanya (ini kalo ternyata anaknya ga terlalu bertolak belakang keinginannya dari si orangtua) ada dua kemungkinan, si anak menemukan ritme kehidupannya di sekolah tersebut atau malah cabut karena under perform di kuliahnya.
Again, it's all about under perform, or just worng position, wrong choice, wrong time, and wrong position :(
Pernah saya mendengar keluhan dari seorang saudara dari anaknya yang ternyata dari semua tes kuliah di universitas negri (S1) gagal, baik jalur SMPTN ataupun jalur mandiri. Si anak yg syukurnya cukup terbuka kepada ayahnya, bilang "Pak, aku ini ga pinter ya?". Sedih kan yah kalau kita sebagai orang tuanya. Untungnya si orang tua berhasil menyemangati si anak yang akhirnya menemukan dunianya di pendidikan D3 and he perfomes well, very well I think.
Contoh di atas adalah contoh yang bagus akhirnya, masih banyak orang tua yang pada akhirnya tetap bersikukuh si anak untuk bersekolah di tempat yg menurut mereka baik dan mungkin pasaran saat itu sedang baik, atau berdasarkan ramalan kedepannya lulusan X dibutuhkan dalam jumlah banyak. Well, it's a mechanism for parents to express their love, hjowever most of the times it was not well communicated or just simply not well received. :)
Any way, kemampuan belajar itu yang penting. Oiya bukan hanya belajar tapi mengaplikasikan apa yang kita pelajari itu yang jauuuh lebih sulit :) (saya juga sedang belajar mengaplikasikan apa yang saya pelajari dalam hidup)
Sementara itu.... I don't care, I LOVE IT :)